Created by Anwari Doel ArnowoKenangan saya mengenai Soekarno tidak ada habis- habisnya. Benar memang, pada suatu saat ada yang menga- takan, bahwa pada abad ke dua puluh tidak ada lagi manusia Indonesia yang lahir sekaliber dan seperingkat dia.
Sejak satu minggu yang lalu banyak orang memberi copy kepada saya kalau saling mengirim email di antara teman-teman mereka, di Eropa, apalagi di Belanda, di Amerika dan di Indonesia sendiri. Yang dibicarakan di dalam email-email itu adalah topik mengenai tujuh belas Agustus dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dengan kemerdekaan Republik Indonesia, yang tidak lepas tentu saja mengenai Soekarno.
Saya sendiri juga menulis tentang dan saya beri judul “17 Agustus 2005” yang saya alami di desa Bintaro, bagian dari Kabupaten Tangerang. Di situ saya pernah tinggal dari bulan April 2005 sampai awal bulan Juli 2006, lalu pindah lagi ke tempat tinggal sekarang, Toronto.
Heran kita mengapa nama Soekarno yang mendomi- nasi topik pembicaraan. Bukankah ada satu lagi anggota Dwi Tunggal, yang sebenarnya tidak kalah dan tidak kurang populernya, yaitu Bung Hatta? Bung Hatta seorang yang pandai, banyak membaca tetapi mungkin tidak menjadi orang yang tepat kalau berha- dapan dengan massa. Beliau itu seorang ekonom (ahli ekonomi) karena pedidikannya akan tetapi berubah menjadi politikus yang adem ayem. Malah ada yang menjuluki Bung Hatta sebagai “ekonom salon”.
Soekarno selalu bergejolak dan bergelora serta berambisi dan berjuang membela orang lain, orang sesama bangsanya sendiri dan juga bangsa lainnya, secara terus menerus, tidak berkeputusan, sepan- jang hidupnya. Itu kata saya. Tetapi apa kata orang- orang yang tidak suka kepadanya? Dia dikatakan seorang yang flamboyant, womanizer, seorang komunis, seorang megalomania, seorang yang bodoh mengenai pengaturan ekonomi dan hal-hal yang jelek lainnya.
Kalau saya mendengarkan pidato Bung Karno yang berbunyi: Inggris kita linggis dan Amerika kita seterika sejak tahun 1940an, saya renungkan ada banyak benarnya.
Sehubungan dengan Soekarno, saya mempunyai catatan yang menceritakan suatu bagian dari hidupnya yang memberi kesan besar dan mengesankan bagi saya.
Pada awal kejatuhan Soekarno, ayah saya seperti seorang yang amat kehilangan sesuatu yang amat dihormatinya. Beliau sering saya lihat berbincang dengan seseorang melalui telepon di rumah beliau di Jalan Dempo No. 13 di Kota Malang. Pembicaraan telepon itu dengan sambungan lokal maupun jarak jauh, tetapi saya sering melihat beliau menangis dan tersedu sedan. Saya juga amat prihatin melihat beliau seperti itu. Saya merasa tidak mampu menghi- bur beliau karena hambatan perbedaan umur yang lebih dari tiga puluhan tahun. Memang nyata sekali tidak dapat mencarikan obatnya.
Baru pertama kali terjadi, seorang yang dijunjung tinggi dijatuhkan, kedudukan dan segala macam miliknya direbut paksa. Bukan milik berupa materi saja, harga diri dan kehormatan sebagai manusia biasapun diambil paksa. Diasingkan dari keluarganya sendiri, tidak dapat berbicara dengan orang luar. Bukan hanya Soekarno yang mengalami pembunuhan karakter tetapi juga ayah saya pribadi. Ayah saya yang Rektor pertama dan kedua serta pendiri Univer- sitas Negeri Brawijaya, yang diangkat oleh Presiden Republik Indonesia, dipaksa turun dan dipecat oleh seorang Kolonel komandan Korem di Malang. Hukum telah diinjak oleh penguasa.
Ayah saya dituduh sebagai anggota PNI Ali Sastro- amidjojo-Surachman yang diucapkan PNI Asu. Fitnah disebar ke mana-mana, teror dilakukan dengan telepon dan lain-lain cara oleh anak-anak HMI kepada ibu saya.
Dikabarkan bahwa ayah saya mengalami kecelakaan berat dan berada di sebuah rumah sakit. Dengan rasa khawatir yang sangat, ibu saya mengirim orang- orang dan menelepon ke sana kemari mencari kebe- narannya, ternyata kemudian ayah saya pulang dan mengemudikan mobil sendiri dari Surabaya. Hal seperti ini bukan hanya sekali dilakukan para mahasiswa yang memihak penguasa, dalam rangka mencari keuntungan materi. Banyak kejadian yang amat menyakitkan hati ayah saya sekeluarga. Sekali- pun demikian, dapat saya katakan kepada mereka bahwa Bung Karno menderita lebih hebat dari keluarga ayah saya.
Dalam keadaan seperti ini, ayah saya akhirnya dapat mendudukkan diri dengan baik dan menghadapi masa depannya dan keluarganya. Hiburan satu-satunya yang disukainya adalah mengetik di atas mesin tik kuno yang dimilikinya sejak saya masih belum lahir. Dengan pita hitamnya yang kuno, ayah saya meng- anggap mesin itu adalah sahabat sejatinya. Mesin portable itu, mereknya Remington, dibawa ayah saya ke dalam sel penjaranya berkali-kali. Sesudah ada mesin ketik yang lebih modernpun, tetap saja yang satu ini yang digunakan sehari-hari.
Dengan segala cara termasuk menggunakan jasa pos, meskipun keyakinan besar tidak akan sampai, ayah saya terus menulis surat kepada Bung Karno yang dijunjungnya dan disayanginya. Surat-surat ayah tidak pernah berbalas, karena kemungkinan memang tidak sampai.
Pada tahun 1966, saya tinggal di Jalan Airlangga III No. 4, Kebayoran Baru dan ayah saya tetap di Malang. Pada suatu saat, ayah saya memberitahu melalui telepon bahwa beliau akan datang dan menginap di tempat tinggal saya. Beliau bilang kepada saya akan bertemu Bung Karno di Bogor. Saya bertanya apa bisa, karena beliau kan ditahan? Beliau bilang sudah diatur sampai bisa. Nah yang berikut ini saya dengar dari beliau setelah beliau sampai di rumah saya.
Beberapa hari sebelum beliau memberitahu saya akan ke Jakarta, beliau diminta oleh Komandan Korem untuk bertemu. Saya tidak tahu apakah ayah saya diambil, atau ayah saya datang ke kantor Komandan Korem. Singkat kata, mereka bertemu dan Komandan itu berkata: “Kami mengetahui bahwa Bapak sering berkirim surat kepada Bung Karno.”
Ayah saya mengiyakan dan bertanya apa ada larangan. Sang komandan tidak menjawab langsung, akan tetapi berkata: “Itu tidak baik!”
Ayah saya menanyakan apanya yang tidak baik? Tambah beliau: “Dia itu kawan saya sejak muda. Dia sekarang sedang dalam kesusahan. Sebagai seorang kawan, saya merasa berkewajiban menghubungi dia. Justru karena dia sedang dalam kesusahan. Kalau dia sedang senang hati, dapat dimaklumi amat banyak yang ingin dekat dengan dia.”
Sang komandan kembali tidak menjawab, tetapi mengatakan dengan kata-kata yang intinya jangan sampai sang komandan terpaksa mengambil tindak- an. Mendengar yang seperti itu, sebagai orang yang sudah cukup umur tentu mengerti. Sambil kembali pulang justru semakin direnungkan oleh beliau, malah semakin menguatkan niatnya untuk terus berhubungan dengan risiko akan diambil tindakan yang paling kecil, yakni berupa penangkapan.
Benar, beliau datang pada hari yang sudah menjelang sore dan pertemuannya dijadwalkan esok harinya dan tetap di Bogor, bersama pak Roeslan Abdoelgani. Dengan berkendaraan mobil VW (Volks Wagen) 1300 model kodok warna biru muda, ayah saya berangkat ke Bogor seperti waktu yang telah ditentukan.
Sebelum berangkat beliau sempat berbincang-bincang dengan saya selama beberapa jam dan memberikan pesan-pesannya. Situasinya terasa amat mencekam bagi saya. Yang amat mengganggu perasaan saya adalah ketika beliau mengatakan bahwa kemungkin- an besar ayah saya akan ditangkap sebelum bertemu dengan teman sekaligus orang yang dijunjungnya itu.
Saya mengantarkan keberangkatan ayah saya hanya dengan pandangan mata sedih sekali. Saya tidak diperkenankan mengantar sampai Bogor, sampai sedekat mungkin di Pavillioen Istana Bogor, di mana Bung Karno bertempat tinggal. Saya melihat tubuh ayah saya yang sudah enampuluh dua tahun, kelihat- an kurang gagah dan suram serta tegang raut muka- nya. Yah, apa boleh buat saya hanya bisa menunggu di Kebayoran. Malam hari beliau sampai kembali ke rumah di mana saya tinggal dan kelihatan bergembira.
Waktu itu diketahui secara umum bahwa KKO (Korps Komando) Angkatan Laut, PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dari Angkatan Udara dan MoBrig (Mobil Brigade) dari Polisi dan beberapa bagian dari Batalion di Kodam Brawijaya, kebanyakan anggotanya siap menunggu perintah Presiden Soekarno. (Namun) Perintah apapun tidak kunjung datang.
Ayah saya bercerita langsung kepada saya bahwa percakapan menginjak ke kondisi Indonesia secara keseluruhan. Kelihatan, kata ayah saya, bahwa Bung Karno banyak menahan diri dalam berkata-kata. Menurut yang saya tangkap dari cerita ayah saya pada waktu itu, ayah saya menunjukkan sikap yang tidak dapat menerima bahwa Bung yang diandalkan- nya tidak dapat tegas. Karena tidak sabar mengha- rapkan ketegasan, dengan semangat tinggi ayah saya berkata kepada Bung Karno: “Bung, ayo melok aku nyang Jawa Timur, arek-arek siap, kok!!” (Bung, ayo ikut saya ke Jawa Timur, anak-anak siap sedia, kok!!). Beliau kelihatan amat terharu sekali dengan ajakan itu dan hampir membuat Bung kita ini emosinya tinggi.
Tetapi apa yang dikatakan beliau sebelum waktu yang disediakan usai?? Beliau berkata: “Nedo nrimo, koên cuma mikir regional thok, aku kudu mikir nasional.” (Terimakasih, kamu hanya memikirkan secara regional saja, saya harus berfikir secara nasional!).
Pada waktu saya mendengar cerita ayah sampai di sini, hati saya juga berkata dengan sedikit bergelora karena kecewa, mengapa beliau tidak memberikan perintah yang tegas?? Waktu itu umur saya 28 tahun, seorang anak kemarin sore!!! Mana ada saya peng- alaman mendengarkan orang bijak berbicara??
Lanjut cerita ayah adalah, dengan perasaan berat tidak berkata lebih banyak lagi, dan saling mendoa- kan satu sama lain. Sebelum ayah beranjak pulang bersama pak Roeslan, mereka bertiga sempat ber- foto bersama dan saya kira saya akan coba menyuruh membongkar tumpukan file lama di Jakarta, dimana saya tinggalkan dua bulan yang lalu. Suatu saat nanti kalau saya kembali ke Jakarta foto bersejarah ini akan saya cari karena amat berharga saat ini. Ayah saya juga sempat minta sesuatu yang tertulis dari Bung Karno berisi pesan buat rakyat Jawa Timur.
Beliau mengambil voelpen dan menulis di kertas Kepresidenan yang berhuruf warna hijau dan logo Presiden RI, berbunyi:
Hé, arèk-arèkku, leksanakan ajaran-ajaranku
Catatan:
Kata “laksanakan”, sesuai aslinya memang ditulis dengan kata yang dieja seperti itu: “leksanakan”. Text aslinya masih disimpan dengan rapi, dilami- nating dengan plastik.