Hari Kamis kemaren, 12 Juli 2007, Tuan "Presiden" Susilo Bambang Yudhoyono berpidato dalam peringatan Hari Koperasi Indonesia, di Bali. Tuan "Presiden" SBY, sebagaimana dikutip harian Kompas mengatakan: "Ideologi berbasis kapitalisme dan neoliberalisme tidak mencerminkan dan tidak sesuai dengan keadilan sosial terhadap rakyat Indonesia, termasuk bagi antarwarga bangsa. Maka, segala ideologi dari luar yang tidak memberi manfaat dan keadilan bagi rakyat harus ditentang dan dicegah masuk ke Indonesia." (Kompas, Jumat 13 Juli 2007, hal. 15). Singkatnya, menurut Kompas, Tuan "Presiden" menyampaikan pesan "tiada tempat bagi sistem ekonomi kapitalisme dan neoliberalisme di Indonesia."
Wah, wah, wah... hebat benar Tuan "Presiden"! Kali ini bicara soal ideologis, bukan semata-mata janji-janji yang tak bertepi.
Ariel Heryanto, di Kompas Minggu hari ini (15/7/07) menduga, pidato yang kental beraroma ordebaru itu jangan-jangan dibuat oleh penyusun yang merupakan 'residu' dari rejim ordebaru yang masih melekat di ring satu Tuan "Presiden" SBY. Sebuah pertanyaan yang sangat relevan, mengingat ordebaru juga sangat suka mencaci-maki komunisme, kapitalisme, dan liberalisme, namun dengan sangat sadar menikmati madunya crony-capitalism.
Persoalannya sekarang, Tuan "Presiden", apa yang Tuan "Presiden" maksudkan dengan kapitalisme dan neo-liberalisme itu? Apakah Tuan "Presiden" tahu bahwa sistem kapitalisme, yang beranak liberalisme dan bercucu neo-liberalisme itu adalah sistem ekonomi yang berbasiskan pada uang yang bekerja semata-mata demi uang, bukan sistem ekonomi yang berbasiskan kerja sebagai manifestasi fitrah manusia? Apakah Tuan "Presiden" paham bahwa kapitalisme itu adalah sebuah sistem untuk menumpuk kapital, yang kemudian ditanamkan lagi untuk menumpuk kapital lebih besar lagi?
Halo Tuan "Presiden" Yudhoyono,
Apakah Tuan sadar bahwa kapitalisme adalah sistem ekonomi yang sama sekali tidak memperhitungkan manusia dan kemanusiaan? Apakah Tuan "Presiden" mengerti bahwa manusia dalam sistem kapitalisme itu beralih wujud menjadi makhluk tanpa nama tanpa jati diri yang berupa angka-angka statistik, GDP, pendapatan per kapita, dan pertumbuhan?
Nah, sekiranya Tuan "Presiden" SBY paham dan mengerti dengan jelas, dan sekiranya pula Tuan adalah benar-benar Presiden Republik Indonesia, pertanyaan berikutnya adalah: apakah Tuan "Presiden" SBY tahu, mengerti, memahami dan sadar mengenai sistem ekonomi yang Tuan jalankan di Indonesia?
Barangkali Tuan "Presiden" perlu saya beri tahu, bahwa koperasi adalah sebuah sistem ekonomi yang menghitung manusia sebagai manusia. Dalam koperasi, keputusan diambil dengan basis satu orang satu suara. Adapun distribusi nilai tambah kepada anggota koperasi, selain dengan menghitung jumlah saham, juga memperhitungkan berapa banyak ia bekerja untuk kepentingan koperasi. Hal ini berarti menempatkan manusia sebagai makhluk yang exis, berpikir, bekerja, dan dihargai sebagai manusia. Berapa besar pun saham yang dikuasainya, satu orang tetaplah satu individu. Jadi, dalam sistem ini, faktor manusianya lah yang diperhitungkan.
Dengan demikian, semangat koperasi berlawanan secara diametral dengan sistem kapitalisme, dimana keputusan diambil dengan dasar satu saham satu suara, dus seseorang yang menguasai 5 juta saham dianggap memiliki 5 juta suara. Artinya, existensi dan suara seorang manusia ditentukan dari berapa banyak ia punya saham. Jadi, yang berbicara adalah saham yang punya nilai rupiah, bukan manusianya yang punya nilai kerja. Yang berkuasa adalah sahamnya, duitnya, bukan manusianya.
Lebih jauh lagi, Tuan "Presiden", di dalam sistem koperasi, setiap orang bekerja untuk semua, dan semua orang bekerja untuk satu tujuan bersama. Jadi, di sini kata kuncinya adalah transformasi. Di dalam sistem kapitalisme, semua orang bekerja demi segelintir orang pemilik saham. Ratusan jam dan trilyunan tetes keringat manusia mengalir dan terkumpul menjadi kemakmuran yang berlimpah bagi beberapa orang pemilik saham. Di sistem ini, Tuan "Presiden", kata kuncinya adalah transaksi.
Nah, kini saya sampai pada pertanyaan pokok. Karena Tuan "Presiden" SBY berbicara menentang kapitalisme di depan forum koperasi yang dihadiri oleh pentolan-pentolan koperasi dari seluruh penjuru dunia, maka pertanyaan terakhir saya ::untuk kali ini:: adalah, apakah yang telah Tuan "Presiden" perbuat dalam menentang kapitalisme dan membesarkan koperasi, sebagaimana yang Tuan pidatokan itu?
Maaf Tuan "Presiden", saya tidak bermaksud mengkuliahi Tuan yang seorang Doktor Ekonomi Pertanian. Saya hanya ingin mengatakan bahwa seandainya saya menjadi Tuan, akan saya pecat si pembuat pidato itu, sebab dia telah menempatkan Tuan menjadi bahan lelucon paling tolol di seluruh dunia...
Tuan "Presiden" terkenal sebagai orang yang teramat sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, sebagaimana Tuan sangat berhati-hati mengambil keputusan dalam menolong rakyat yang menjadi korban lumpur di Sidoarjo, akibat kelalaian perusahaan milik seorang menteri Tuan. Barangkali Tuan "Presiden" Susilo Bambang Yudhoyono juga perlu lebih berhati-hati sebelum bicara?
Labels
Blog Archive
Saturday, August 11, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)