Labels

Tuesday, January 15, 2008

rakyat gugat suharto

Baru sepuluh tahun yang lalu sejak ia dijungkalkan oleh rakyat karena kesewenang-wenangannya. Siapapun yang cinta kepada kemanusiaan dan keadilan pasti tak rela bila ia pergi begitu saja tanpa diadili segala kesalahannya.

Tanyakan kepada Rakyat Aceh. Tanyakan kepada Rakyat Papua. Tataplah mata Rakyat Timor Lorosae sekarang. Jenguklah hati keluarga korban 65, 27 Juli 1996, Kedung Ombo, Talangsari, Tanjung Priok, Trisakti, dan kerusuhan Mei 1998. Tanya, apa yang telah ia perbuat kepada Sukarno!

Sunday, January 06, 2008

Melihat Kemajuan Tiongkok

Panji Prasetyo*

Biar seratus bunga mekar bersama dan biar seratus aliran berlomba
hidup berdampingan jangka panjang dan saling mengawasi
(Mao)


Banyak hal yang menjadi pikiran saya setelah belajar di Tiongkok. Apa yang saya baca tentang geliat ekonomi Tiongkok, ada di depan saya dan saya merasakan hal ini. Diantara rasa ingin tau dan ketakjuban serta segudang pertanyaan yang semakin hari semakin bertambah, semuanya bercampur dalam diri saya. Ya, Tiongkok telah menjadi perbicangan hangat saat ini dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, yaitu 11%. Tiongkok telah berproses menuju masyarakat yang cukup sejahtera pada pertengahan abad XXI, sesuai dengan pemikiran Deng Xiaoping. Kondisi ini sejalan dengan dijalankannya reformasi serta politik pintu terbuka dengan dunia luar, tepatnya tahun 1978. Setelah itu Perekonomian Tiongkok tumbuh pesat, dengan rata-rata lebih dari 9% setahun.

Geliat ekonomi Tiongkok ini tentunya tidak merupakan sebuah proses yang cepat dan tiba-tiba terjadi begitu saja. Kondisi ini membutuhkan sebuah proses perjuangan yang panjang. Sebuah pemikiran yang visioner dari para pemimpin Tiongkok. Dan juga ideologi pembimbing Partai tentunya.

Saat ini Tiongkok telah menjadi raksasa ekonomi dunia. Tiongkok memiliki cadangan devisa asing sebesar 1000 Milliar Dollar pada awal tahun 2007. Saat mendorong kemajuan proses produksi, secara luar biasa ditarik modal luar negeri untuk melakukan investasi di Tiongkok. Pada tahun 2004 Tiongkok menarik investasi langsung senilai 53,5 miliar dolar AS. Daya tarik investasi di Tiongkok, telah mendorong investor asing untuk merelokasi industrinya ke Tiongkok. Raksasa otomotif General Motors menginvestasikan modalnya hingga 3 miliar dolar AS.

Volkswagen Jerman juga menanam 900 juta dolar AS untuk membuka industrinya di Tiongkok. Investasi asing di Tiongkok mencatat pertumbuhan yang luar biasa. Jika pada awal 1990 investasi asing langsung yang masuk senilai 3,5 miliar dolar AS, atau 17,5 persen dari total investasi asing langsung (FDI) ke Asia Timur, pada 1997 nilai FDI ke Tiongkok melesat menjadi 43 miliar dolar AS, atau setara dengan 50 persen FDI ke Asia Timur. Tahun 2007 Tiongkok sudah menyetujui dan mengesahkan investasi 590.000 perusahan asing, menggunakan 700 milliar dollar AS dalam investasi kapital semenjak dimulainya kebijakan reformasi dan politik pintu terbuka bagi dunia luar 29 tahun yang lalu. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok saat ini sebenarnya mempropaganda satu hal yaitu “suksesnya pembangunan sosialisme berciri khas Tiongkok dibawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok”.

Sebelum saya berangkat ke Tiongkok, beberapa orang berpesan agar saya melihat Tiongkok dari dua sisi, yaitu sosialisme juga kapitalisme. Saya berpkir panjang merenungi hal ini, karena ini sebuah hal yang menarik bagi saya. Karena pasti akan bertemu kajian-kajian yang menarik untuk hal ini. Dan saya mulai berusaha mencari jawaban untuk hal ini.

Bagi saya jawabnya adalah sosialisme berkepribadian Tiongkok. Sama dengan halnya dengan cita-cita tentang sosialisme Indonesia yang dimatikan setelah peristiwa 1965. Namun saya yakin cita-cita tentang Sosialisme Indonesia tidak akan pernah mati. Amerika Latin bisa dengan cara mereka, kenapa kita tidak bisa dengan cara Indonesia. Kita harus bekerja keras untuk sosialisme Indonesia dan ini merupakan sebuah kerja panjang.

Sosialisme itu butuh pasar, dan itu yang dilakukan oleh Tiongkok. Tanpa pasar maka kemajuan ekonomi Tiongkok akan tidak berarti apa-apa. Untuk tujuan membebaskan dan mengembangkan tenaga produktif, ditempuh semua jalan, terutama untuk membangun ekonomi pasar-sosialis. Dijelaskan sebuah pemahaman baru mengenai peranan pasar. Dijelaskan bahwa pasar berguna bagi kapitalisme, tapi juga berguna bagi sosialisme. Dengan menjadikan pasar sebagai tenaga pengungkit perekonomian, dan negara membebaskan harga-harga barang komoditi ditentukan oleh pasar, kecuali harga sejumlah barang dan bahan yang strategis, maka produksi cepat meningkat. Untuk itulah juga Tiongkok membuka ruang investasi yang besar.

PKT dibawah pimpinan Deng Xiaoping mengambil kesimpulan bahwa Tiongkok kini berada dalam tahap pertama sosialisme. Pada tahap ini adalah masa yang panjang untuk sampai bisa menciptakan syarat pelaksanaan prinsip distribusi sosialis, yaitu bekerja menurut kemampuan, menerima menurut hasil kerja. Rumusan tahap pertama sosialisme untuk pertama kali dikemukakan dalam literatur Marxis. Dalam tahap pertama sosialisme, tugas utama adalah membangun perekonomian sosialis. Semboyan perjuangan klas sebagai poros yang dikobarkan selama revolusi besar kebudayaan proletar diganti dengan semboyan pembangunan ekonomi sebagai tugas titik berat. Untuk itu, yang terpokok adalah membebaskan dan mengembangkan tenaga produktif. Maka secara besar-besaran dijalankan kebijaksanaan reform dan pintu terbuka terhadap dunia-luar. Dengan tujuan membangun masyarakat Tiongkok yang cukup sejahtera pada pertengahan abad XXI.

Perkembangan ekonomi Tiongkok juga sangat didukung oleh kebijakan dalam melaksanakan politik luar negerinya. Tanpa kebijakan yang tepat maka geliat ekonomi ini akan menjadi sia-sia saja. Terlihat jelas bahwa ekonomi dan politik adalah sebuah kekuatan yang tidak terpisahkan. Jadi sangat tidak cerdas ketika kita memisahkan kajian ekonomi dan politik. Keterkaitan itu sangat jelas.

Politik luar negeri Tiongkok adalah mengabdi untuk kepentingan dalam negeri, yaitu mengabdi pada kepentingan pembangunan sosialisme di Tiongkok. Pemerintah Tiongkok dengan tangguh berpegang pada keyakinan akan kebenaran pemikiran Lenin, bahwa sosialisme dapat dimenangkan dengan jalan damai, jalan berkoeksistensi, berlomba dan bersaing dengan sistem kapitalisme dunia. Oleh karena itu, Pemerintah Tiongkok mengangkat tinggi panji lima prinsip koeksistensi secara damai antara negara yang berbeda sistim sosial, yang intinya adalah tidak campurtangan mengenai urusan intern negeri lain. Konflik-konflik yang terdapat di dunia harus diselesaikan dengan jalan damai. Dan inilah yang dilakukan oleh Tiongkok saat ini. Menguatkan di dalam sekaligus menguatkan di luar.

Tiongkok mempunyai penilaian bahwa ciri dan kecenderungan pokok situasi dunia dewasa ini adalah perdamaian dan perkembangan. Negeri-negeri dan rakyat sedunia membutuhkan perdamaian dan perkembangan. Pembangunan Tiongkok berlangsung dalam suasana damai, Tiongkok membutuhkan suasana dunia yang damai. Karena itu politik luar negeri Tiongkok adalah politik membela perdamaian. Dan Tiongkok menggalang kerjasama dengan berbagai negara demi kepentingan perkembangan bersama.

Tiongkok dengan tangguh menghadapi globalisasi yang sedang melanda dunia. Globalisasi difahami sebagai suatu perkembangan objektif sejarah dunia. Faktor-faktor perkembangan ekonomi dan kemajuan ilmu serta teknologi, terutama teknologi informasi menyebabkan secara objektif berlangsungnya globalisasi. Perkembangan kapitalisme membutuhkan dan menyebabkan berlangsungnya globalisasi. Disamping itu, gerakan sosialisme juga tak mungkin terisolasi dari dunia yang berkembang maju. Gerakan sosialisme, sebagai gerakan yang bersifat internasional, juga membutuhkan globalisasi. Karena itu globalisasi tak bisa dan tak perlu ditentang, tapi harus digunakan. Sungguh menarik perhatian, bahwa ada kekuatan yang dikendalikan oleh Internasionale IV Trotskis yang sangat giat melancarkan gerakan anti-globalisasi dan anti WTO dalam rangka menentang neo-liberalisme.

Adalah benar bahwa neo-liberalisme merugikan banyak negara yang sedang berkembang. Tapi tidaklah berarti bahwa neo-liberalisme dapat dilawan dengan anti-globalisasi dan anti-WTO. Hanyalah dengan mempraktekkan dan mempropagandakan pisau analisa Marxisme, neo-liberalisme dapat dilawan. Dan Tiongkok telah melakukan ini dengan persiapan yang sangat matang.

Tanpa ideologi pembimbing Partai maka apa yang saat ini di Tiongkok tidak akan terjadi. Bukannya deideologisasi, tapi pimpinan PKT sangat mengutamakan ideologi dalam pembangunan Partai. Ini termanifestasi dalam isi kongres XVII, yang menumpahkan perhatian pada pentingnya pembaharuan ideologi Partai untuk dicantumkan dalam Konstitusi Partai. Kongres ini melakukan perobahan atas Konstitusi PKT, yaitu menambahkan rumusan pandangan ilmiah tentang perkembangan sebagai ideologi pembimbing partai. Semenjak berdirinya, sudah berkali-kali ideologi pembimbing PKT diperbaharui. Dimulai dengan Marxisme-Leninisme, Kongres VII tahun 1945 merumuskan Marxisme-Leninisme dan Fikiran Mao Zedong, Kongres XV tahun 1997 menjadi Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao Zedong dan Teori Deng Xiaoping, Kongres XVI tahun 2002 menjadi Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping dan Fikiran Penting Tiga Mewakili. Dan Kongres XVII tahun 2007 ini melengkapinya lagi dengan pandangan ilmiah tentang perkembangan. Formulasi ideologi pembimbing yang sebelumnya tidak dilenyapkan, tapi ditambah dengan rumusan baru, hasil penyimpulan pengalaman praktek membangun sosialisme berciri Tiongkok semenjak Kongres XVI. Perkembangan pesat melahirkan situasi baru, memerlukan pola biru pembangunan yang baru, tugas-tugas baru, dan memerlukan ideologi pembimbing yang baru. Sebuah bukti bahwa Tiongkok tetap membutuhkan yang namanya Ideologi, tanpa ideologi maka semuanya akan menjadi sangat pragmatis, karena tidak ada tata nilai bersama. Dan subyektivitas akan sangat kental mewarnai proses politik yang akan berjalan.

Saat ini pula Tiongkok telah menghapuskan semua pajak pertanian dan pajak-pajak lain di desa. Hal ini dilakukan untuk melepaskan penduduk desa dari kemiskinan. Sebuah program yang disebut program pembangunan desa baru sosialis telah dilakukan di Tiongkok. Pajak yang dihapuskan termasuk, pajak menyembelih ternak, pajak peternakan dan ini berarti menghilangkan beban penduduk desa sebanyak 125 milyar yuan setahun. Petani padi-padian mendapat subsidi langsung, diberikan subsidi untuk menanam jenis tanaman unggul, subsidi untuk membeli mesin-mesin pertanian dan untuk alat-alat pertanian lainnya.

Subsidi yang diberikan tahun 2006 berjumlah lebih dari 30 milyar yuan. Pemerintah juga meningkatkan subsidi bagi kabupaten-kabupaten yang terbatas jumlah penghasilan keuangannya, hingga berjumlah 23,5 milyar yuan. Selain itu Pemerintah pusat sudah mengeluarkan sebanyak 339,7 milyar yuan buat membantu pertanian, daerah pedesaan dan kaum tani, yaitu naik 42,2 milyar yuan dari tahun ke tahun. Lalu hari Buruh, di sini juga sudah libur, sudah tiga tahun belakangan, saya juga ikut libur di sini. Jadi bisa istirahat di kamar.

Sebentar lagi kita akan melihat bagaimana Tiongkok dengan kekuatan lunaknya pada olimpiade Beijing 2008. Juga tentang membangun dunia yang harmonis. Dalam pidato di Konggres XVII PKT, mengenai membangun dunia yang harmoni, Hu Jintao mengatakan “We maintain that the people of all countries should join hands and strive to build a harmonious world of lasting peace and common prosperity.” Kemudian ia melanjutkan, “Sharing opportunities for development and rising to challenges together so as to further the cause of peace and development of humanity is the fundamental interests of the people of all countries and meet their common aspirations.”

Lalu dengan tegas Hu melanjutkan “…all countries uphold the purposes and principles of the United Nations Charter, observe international law and universally recognized norms of international relations, and promote democracy, harmony, collaboration and win-win solutions in international relations”. Itulah yang diucapkan Hu Jintao dalam Konggres XVII PKT yang baru saja dilaksanakan mengenai masyarakat dunia yang harmoni.

Dalam konsep kekuatan lunak atau soft power, Hu mengutarakan “Culture has become a more and more important source of national cohesion and creativity and a factor of growing significance in the competition in overall national strength….. We must “enhance culture as part of the soft power of our country to better guarantee the people's basic cultural rights and interests”.

Lalu Hu menguatkan peryataannya, “Some highlights of his proposed methods in this regard include: to step up the development of the press, publishing, radio, film, television, literature and art, give correct guidance to the public and foster healthy social trends.” Itulah yang kurang lebih Hu utarakan tentang kekuatan lunak. Dan sebentar lagi kita akan melihat kekuatan lunak di Olimpiade 2008. Tentu bukan sekedar olimpiade yang akan menarik banyak uang, tapi juga muatan ideologis akan terlihat di situ. Bagaimana nanti suguhan budaya Tiongkok akan membuat kagum dan pasti akan terjadi diplomasi secara budaya di dalamnya. Karena budaya merupakan ruang komunikasi yang efektif.

Dan inilah Tiongkok dalam sedikit catatan saya. Semoga dapat memberi masukan bagi kawan-kawan semua mengenai Tiongkok. Karena perkembangan Tiongkok ke depan menarik untuk dikaji. Sebab naga itu tengah menggeliat. Kita juga harus bersiap tentunya. Nanchang, China, 4 Januari 2008


*Mahasiswa Jiangxi Normal University, Nanchang, Republik Rakyat Tiongkok.

-----------------------------------------------------
Sumber-sumber:
1. Suar Suroso, korespondesi pribadi
2. Mao Tse Tung; Kebudayaan, Negara, dan Pembebasan; Desantara
3. Berbagai sumber lain