Kontradiksi pokok dunia saat ini adalah antara blueprint liberalisasi individualistik melawan skenario pemberdayaan.
Di ujung sananya, liberalisasi akan berakhir pada monopoli, karena pada hakekatnya liberalisme adalah pembebasan sebebas-bebasnya NAFSU akumulasi kapital, baik kapital finansial maupun kapital politik (kekuasaan).
Sebagai akibat persaingan yang sengit dalam liberalisme, para penguasa kapital akan membentuk kartel-kartel elitis untuk melindungi kepentingan mereka vis-à-vis kartel yang lain dalam membentuk hegemoni masing-masing. Maka akan terjadi perseteruan antar hegemoni yang akhirnya saling memakan.
Di sinilah letak permainan liciknya! Korban pertama dan utama dalam perseteruan itu tentulah pihak yang tak berdaya, yang berada di lingkar terluar kartel kapital (yang memang sengaja dikorbankan!). Korban berikutnya adalah lingkar kedua kartel. Demikian seterusnya, semakin sengit pertempuran maka korban yang jatuh semakin mengarah ke inner circle kartel. Bila pertempuran itu sudah harus memakan korban dari inti kartel, maka akan terjadi renego- siasi antar penguasa kapital untuk meminimalisir korban dari kalangan inti mereka masing-masing.
Kedua model tersebut (liberalisme dan pember- dayaan) mensyaratkan adanya kepemimpinan yang kuat. Liberalisme membutuhkan diktator seperti Bush, IMF, Soeharto, dan lain-lain untuk membuka lahan liberalisasi. Skenario Pemberdayaan pun memerlukan kepemimpinan ide yang kuat sebagaimana Chavez dan Ahmadi-Najad sebagai pelopor.
Dalam konteks kekinian
Sayangnya, kita ini kok tidak sadar-sadar ya, kalau sedang menjadi konsumsi. Bukannya bergotong- royong membentuk front, malah membikin peruncingan- peruncingan antar bangsa dhewek....
No comments:
Post a Comment